Arti-Cap-Go-Meh

Arti Cap Go Meh, Kenapa Harus Dirayakan Malam ke-15 Tahun Baru Imlek?

Cap Go Meh merupakan sebuah perayaan yang selalu berlangsung pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek, bertepatan dengan bulan purnama pertama dalam kalender Lunar. Perayaan ini juga menjadi momen penutup dari rangkaian perayaan Imlek.


Dalam kalender Masehi, Cap Go Meh biasanya dirayakan antara tanggal 4 Februari hingga 6 Maret. Pada tahun 2025, perayaan ini jatuh pada hari Rabu, 12 Februari. Seperti tahun-tahun sebelumnya, di Indonesia, Cap Go Meh akan diramaikan dengan berbagai atraksi budaya, seperti parade barongsai dan pelepasan lampion

Makna Cap Go Meh

Menurut Dwi Susanto, seorang dosen Sastra Indonesia dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, istilah "Cap Go Meh" berasal dari bahasa Hokkien. Ia menjelaskan bahwa "Cap go" berarti 15, sedangkan "meh" berarti malam, sehingga Cap Go Meh dapat diartikan sebagai malam ke-15. Tradisi ini telah ada sejak zaman dahulu


Dalam ajaran Konghucu, Cap Go Meh memiliki makna spiritual yang mendalam. Perayaan ini menjadi waktu untuk berdoa kepada orang tua serta memohon keberkahan kepada Tuhan atau Tian. Menariknya, istilah "Cap Go Meh" hanya dikenal di Indonesia. Di negara lain, perayaan ini memiliki nama yang berbeda, seperti Festival Lentera atau Lantern Festival secara internasional, dan Yuánxiāojié atau Shàngyuánjié di Tiongkok

Sejarah Cap Go Meh

Asal-usul Cap Go Meh dapat ditelusuri hingga masa Dinasti Han, sekitar tahun 206 SM hingga 220 M. Pada masa itu, para biksu Buddha menyalakan lentera pada malam ke-15 Tahun Baru Imlek sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Buddha. Tradisi ini kemudian menyebar ke berbagai wilayah di Tiongkok dan negara-negara Asia lainnya


Ada pula legenda yang menceritakan bahwa Kaisar Giok pernah marah karena penduduk sebuah kota membunuh angsa kesayangannya. Dalam kemarahannya, ia berencana membakar kota tersebut. Namun, seorang peri memberi tahu penduduk untuk menyalakan lentera di seluruh kota pada malam yang sama. Melihat cahaya terang di mana-mana, Kaisar Giok mengira kota itu telah terbakar dan membatalkan niatnya. Sejak saat itu, lentera menjadi simbol syukur dalam perayaan Cap Go Meh.

Tradisi dalam Perayaan Cap Go Meh

Setiap daerah memiliki cara unik dalam merayakan Cap Go Meh, tetapi ada beberapa tradisi yang hampir selalu hadir, seperti:


  • Pemasangan Lampion

    Lampion menjadi simbol utama dalam perayaan ini. Orang-orang menyalakan lampion sambil berdoa untuk keberuntungan dan masa depan yang cerah.

  • Teka-Teki Lampion

    Beberapa lampion dihiasi dengan teka-teki yang dapat dijawab oleh pengunjung. Mereka yang berhasil menjawab dengan benar biasanya mendapatkan hadiah kecil.

  • Tarian Barongsai dan Liong

    Pertunjukan barongsai dan tarian naga (liong) menjadi bagian penting dari perayaan ini. Selain menghibur, tarian ini dipercaya membawa keberuntungan dan mengusir energi negatif.

  • Pelepasan Lampion

    Sebagai penutup, lampion-lampion dilepaskan ke langit, baik di rumah bersama keluarga maupun di vihara dengan bimbingan biksu.


Cap Go Meh bukan sekadar perayaan biasa, tetapi juga menjadi simbol harapan, doa, dan kebersamaan. Lentera yang diterbangkan membawa makna mendalam, mengiringi harapan baru bagi semua yang merayakannya.